Senin, 06 Desember 2010

Mengapa PENDIDIKAN Kita Tertinggal Dengan SINGAPURA

Guru Profesional
Pada masa silam sekitar abad ke 14, pulau Singapura merupakan sebagian dari kerajaan Sriwijaya dan dikenal sebagai Temasek ("Kota Laut"). Kemudian pada abad ke 16 hingga abad ke 19 datanglah bangsa bangsa dari Eropa dengan misi mencari daerah jajahan.

Negara Singapura tumbuh kembang hingga sekarang lantaran jasa Sir Stamford Raffles yang mendirikan sebuah pelabuhan Inggris di wilayah itu. Di bawah pemerintah colonial Inggris sejak tahun 1819, Singapura telah berkembang menjadi kota pelabuhan yang maju dan amat amat strategis. Berkat letak vitalnya dan managemen pemerintah colonial Inggris yang maju. Pada masa PD ke- II Singapura diduduki tentara Jepang hingga tahun 1945.

Mulai tahun 1963 Singapura telah bergabung dengan Tanah Melayu bersama-sama dengan Sabah dan Sarawak untuk membentuk Malaysia. Tetapi Singapura keluar dari Malaysia untuk menjadi sebuah republik pada 9 Agustus 1965.
Meski luasnya tidak jauh melebihi DKI Jakarta, namun prestasi yang luar biasa telah dicapai Negara Singapura dengan indikasi PDB perkapita menyamai kota kota besar di Eropa Barat. Singapura merupakan negara kota pulau yang kecil, dan dijadikan kota di Asia Selatan, terletak antara Malaysia dan Indonesia. Singapura memiliki jumlah daerah daratan 692,7 km² dan 193 km garis pantainya. Terpisah dari Indonesia oleh Selat Singapura dan dari Malaysia oleh Selat Johor (Wikipedia,2010)
Singapura jauh berbeda dengan kita, secara alami mereka hanya memiliki lahan yang bisa digunakan untuk pertanian hanya sebesar 2 %, tidak memiliki tanah teririgasi, hutan hanya sebesar 5 %, sedangkan sisa lahan lainnya digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya (Wikipedia, 1993).

Hal yang membuat kita takjub dengan Negara kecil ini yang berpenduduk 4 juta jiwa adalah dengan keterbatasan sumber alamnya, namun mampu mensejajarkan diri dengan bangsa bangsa lain yang mengusung sebuah Negara yang maju dalam iptek dan lainnya. Hal ini terbukti dengan prestasi Singapura yang menggapai kemajuan ekonomi pada kuartal III-2010 hingga 10,3 persen. Meski pertumbuhan ekonomi negeri ini lebih lambat dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 19,6 persen. Pemerintah Singapura berencana menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 13-15 persen dari semula 7-9 persen, mengalahkan China yang diprediksi tumbuh 10 persen Di sisi lain, pengangguran Singapura kuartal I-2010 secara tahunan turun menjadi 2,2 persen dari posisi Desember 2009 sebesar 2,3 persen. Level terbaru ini merupakan terendah dalam dua tahun terakhir (Ministry Trade and Industries Singapura, 2010).

Lantas terbesit di benak kita dengan cara bagaimana mereka mampu menggapai kemajuan yang begitu pesat. Bukankah tidak ada salahnya bila kita meniru kiat mereka dalam menggapai prestasi yang gemilang. Kini mereka termasuk Negara dengan pendapatan per kapita lebih dari 24.000 dollar AS per tahun, Singapura termasuk paling kaya di dunia. Namun, Singapura tidak menyamaratakan bahwa semua warga pasti dianggap mampu. Oleh karena itu biaya sekolah di Singapura relatif murah dan memang telah menjadi program Kementrian Pendidikan Singapura.

Setiap peserta didik di Negara ini disiapkan ruang belajar yang nyaman dengan perlengkapan teknologi internet dan multi media yang menjadi satu dengan kelasnya. Sehingga bahan ajar yang diperolehnya tidak semata mata berasal dari sang pendidik. Mereka merasa nyaman dalam belajar,lantaran dibimbing oleh pendidik yang memang berkompeten di bidangnya. Guna keperluan itu Kementrian Pendidikan Singapura telah memberikan keleluasaan bagi sekolah/universitas untuk mendatangkan para ahli dari luar negeri. Tak jarang pendidik /dosen tamu adalah ermasuk figure ahli di Negara asalnya (Singapore Education Specialist, 2008).

Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi pendidikan di Negara kita. Berapa banyak kita mendengar ruang sekolah dasar yang ambruk lantaran dibangun konstruksi yang tidak semestinya. Berapa banyak sudah kita mendengar kecurangan pada pelaksanaan UN setiap tahun. Apalagi dengan kondisi pendidik yang belum semuanya berpendidikan S1.Berdasarkan data Kemendiknas, saat ini ada sekitar 2.607.311 guru yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 535.601 (20,54 persen) guru merupakan tamatan SMA, kemudian 49.763 orang lulusan D1 (1,90%), 790.030 tamatan D-II (30,30 persen), dan 121.327 lulusan D-III (4,65 persen).
Untuk guru lulusan sarjana (S-1) tercatat sebanyak 1.092.912 (41,91 persen), tamatan magister (S-2) 17.619 (0,67 persen), dan lulusan doktor (S-3) sebanyak 59 orang.

Namun demikian setiap niatan dari bangsa dibelahan bumu manapun yang masih memiliki niatan memajukan suatu sistim pendidikan adalah sesuatu yang mulia. Karena ini menyangkut harkat martabat kehidupan anak cucu kita. Waktu masih bergulir, masih banyak kesempatan bagi kita untuk mengejar ketertinggalan sistim pendidikan bukan hanya dengan Singapura, tetapi dengan Negara lainnyapun kita masih memiliki peluang. Asal keseriusan kita dalam mengusung sematan kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia benar benar terintegrasi dalam kehidupan kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar