Kamis, 06 Desember 2012

Kado untuk Sahabatku

Sebuah perubahan yang relatif mudah  diraih dalam hal dan ranah apapun sangatlah mustahil bila dipusari dengan anasir anasir yang tidak kodusif. Terlebih di satu sisi, ranah yang harus mengalami perubahan tersebut di atas adalah instusi pendidikan, sedangkan di sisi lain faktor kontribusi pendidik yang signifikan juga sangat mempengaruhi perubahan yang kita harapkan.

Ranah pendidikan yang secara spesifik adalah sistim yang mengusung pembelajaran multidimensional, sebagai realisasi konkrit pembentukan generasi yang “up to date”, sangat spesifik dalam men-download  sebuah perubahan itu sendiri. Sebab satuan pendidikan di manapun berada harus mampu mensinergikan triangulasi faktor pembelajaran, yaitu karakter peserta didik, kurikulum dan pendidik yang paling dominan. Wacana tersebut tentunya mensiratkan kepada kita terdapatnya kompleksitas yang cukup pelik untuk mewujudkannya.

 Sehingga apabila suatu satuan pendidikan menharapkan kemajuan yang signifikan,haruslah terlebih dahulu menyiapkan figure pemimpin/kepala sekolah yang mumpuni dalam aspek manajerial dan kiat dalam megusung pembelajaran, dengan tidak menyisakan aspek tegas sekaligus lembut dan santun, mampu memberikan keteladanan dalam semua aspek, jeli membaca karakter pendidik yang dipimpinya memiliki visi ke depan yang kukuh, visibel, mudah  dan konsisten, mampu mendamarbaktikan dengan berbagai kalangan dan lain sebagainya.

·         Spesifikasi MAF 1

Sebuah pertanyaan acapkali menyeruak ke tengah publik, tentang apa yang bisa diharapkan  dari bangsa ini untuk menciptakan suatu generasi yang “jujur, inovatif, cerdas” dan lain sebagainya, bila keadaan kita sungguh sudah terpuruk seperti ini, Bahkan kitapun sering mendengar laporan dari berbagai pihak,bahwa Indonesia termasuk negara yang terkorup setelah negara tertentu, atau Index Human Development masyarakat Indonesia bisa jadi akan di bawah masyarakat Vietnam atau Kamboja. Lantas apabila semua lapisan masyarakat/birokrasi di negara kita sudah terbelenggu dengan budaya korup, sebagai karakter yang nista, di manakah letak benteng terakhir untuk membendung derasnya arus yang negatif tersebut?. Dalam hal ini, pendidikanlah yang dipilih sebagai benteng terakhir, apalagi pendidikan yang diusung oleh satuan pendidikan / lembaga pendidikan agamis, seperti Madrasah Aliyah Futuhiyyah 1, Mranggen, Demak yang sedang getol menggapai pembelajaran untuk  mencetak generasi yang  jujur, agamis, inovatif  dan berkompetensi.

            Tinggalah kini figure Kamad (kepala madrasah) MA Futuhiyyah 1 yang handal dalam memanisi gerbong pembelajaran yang mampu menghantarkan semua pihak di kalangan MAF 1 ke titik akhir sebuah visi yang disepakati bersama. Kita harapkan salah satu partner, sokib, rekan perjuangan penulis selama berpuluh tahun, yaitu Bpk. KH Zaenus Sholihin S. Ag yang pada awal Desember tahun 2012 terpilih sebagai Kamad MAF 1, mampu menrealisasikan visi ke depan tersebut dengan diiringi rasa sukur  ke Hadirat Tuhan yang Maha Kuasa. Akhirnya penulis hanya mampu menghaturkan selamat berjuang***

Sabtu, 13 Oktober 2012

Kupu Kupu Maya


Semakin melenakan  hati Isa Noval saja, hingga dia terus mengelupas hari harinya dengan bercengkerama pada siapapun di FB, Twitter atau jejaring sosial lainnya, tak hirau jarum detik lepas dari menit, jam dan seterusnya.  Saat dia bergumul dengan laptop atau handphone gaul bercassing biru muda, maka saat itulah dia menyisir serat optik menembus dunia maya, tanpa berbatas tempat, kalangan “the have” atau ilalang kecil yang separo nafas. Dengan acuh dan ego cowok gaul ini menyambangi siapa yang demen chatingan atau yang demen nulis apa saja di view untuk curhat atau berbagai gagasan konyol dan filosofis, termasuk juga nulis puisi cinta, layaknya penyair kondang. Bila anak gaul ini, sudah nongkrong di depan laptopnya di kamar pribadinya, maka waktu berjam jampun akan berlalu begitu saja.


Stephane adalah salah satu cewek yang  ngebet banget dengan Noval di minggu minggu ini, meski dia bukan teman Noval satu sekolah. Tapi berawal dari berbagi seloroh tentang apa saja di FB hingga beberapa appoinment berdua untuk saling jumpa. Dua sejoli itupun bagaikan merpati yang tak pernah ingkar janji, saling enjoy dan tak melewatkan sang detik yang memburunya.

Nova berkemas seperti merpati jantan yang romantis dan elegan, sedangkan Stephane siap menjerat sang merpati jantan dengan gula gula cinta remaja yang semarak penuh warna. Mereka kini berdua di Catherina Pub, dengan soft drink dan menu makanan ringan Javaness Food benar benar larut dalam Special Night for Legend of Westlife.

***

“Salut aku sama kamu, Bro !” Stephane mulai memberikan celotehnya, di dalam mobil warna hitam pekat, yang menyisir Kota Semarang, sepulang dari nonton konser musik di pub itu.

“Salut apaan,  Step !”

“Kamu pinter nyari acara, aku terkesan  lagu lagu tadi, so sweet !. Kamu biasa ke pub ini ?”

“Ah, cuma kali ini !. Acara ini  aku tahu dari status sokib sokibku di FB “

Seberkas rasa nggak percaya kini terlintas di benak Stephane  dan getar hatinya jelas terlihat di sorot matanya yang hambar. “Ah, masa aku sebodoh ini, aku baru kenal dia yang ganteng tapi udah bareng nonton konser ini malam ini, begitu gampang !, so pasti Noval biasa juga mengencani cewek cewek yang jadi sokibnya “ terus saja getar hati Stephane memenuhi setiap interior mobil hitam pekat,  yang berisi sepasang anank gaul dan terus meluncur  sepanjang jalan jalan gelap Kota Semarang menuju batas kota. Stephanepun bungkam hening, seribu bahasa.

Tidak biasa cewek yang cantik dan ceria, seperti Kate Midlleton sang bunga mekar sari di tengah kumbang kumbang yang berusaha menjeratnya. Tapi kini tak ubahnya seperti gadis desa yang baru pertama berkenalan dengan pejaka yang masih asing baginya.

“Kok diam, Step !” seru Noval.

“Nggak aku cuma penasaran sama kamu !” jawab Stephane.

“Ah jangan gitu dong !, sesuai appoinment yang kita buat, malam ini kita enjoy. Menghabiskan Saturday Night Fever yang  so sweet dan berkesan” mulai Noval memasang jerat jerat romantisnya kepada cewek gaul sokib FB-nya.

“Tapi aku nggak mau, enjoy kita nglantur samapai batas kota ini.Aku mau pulang saja, Noval. Akupun punya banyak friend di FB yang sering main bareng, tapi nggak sampai kaya gini”

“Sabar Step, aku Cuma mau ngajak kamu refreshing saja”

“Tapi aku nggak mau “ bentak Stephane hingga membuat rona wajah cowok ganteng itu menjadi merah dan malu.

“Kok kamu marah, sih !” jawab Noval penasaran.

“Sekarang putar saja, kita balik ke Semarang “ pinta Stephane.

“Kita sudah jauh Step, mengapa harus kembali ke Semarang ?”

“Kalau kamu memang sokib FB ku, kamu harus tahu perasaanku, dong !. Aku bukan cewek murahan, yang gampang diajak kencan yang norak, jangan kamu samakan aku dengan sokibmu yang lain”

“OK !!!, Step aku putar, tapi aku pengin kita mampir di Cafe Pojok, untuk ngobrol dulu dengan kamu,  don’t worry Step, aku tidak akan macam macam denganmu” pinta Nova.

“OK !!, akupun tetap menghargai kamu, sepanjang kamu hanya ingin berteman denganku, itu saja “

***

Kedua sorot mata sepasang anak gaul ini saling membuang satu sama lain. Padahal di atas meja  mereka telah tersaji softdring lengkap dengan sedotan dan makanan ringan. Noval terus saja diam, tapi masih   tersimpan dalam kalbu hatinya, rasa malu dan penasaran yang liar. Stephane kini terlihat lebih dewasa setelah tahu cowok yang bersamanya malam ini, adalah cowok yang bermoral kampungan, yang mengganggap dia hanya Kupu Kupu Maya. Maka wajar saja Stephane menganggap Noval bukan cowok yang menjadi levelnya dia.

“Asal kamu tahu, Noval !. Aku bukan cewek yang bisa kamu perlakukan seenaknya !” dengan halus dan tatapan mata yang bijak Stephane berusaha meredakan bara yang ada di hati Noval. Bara yang terus saja selama ini mampu menundukan bunga bunga sokibnya, baik yang kenal di FB maupun di acara gaul lainnya.

“Step !, jangan salah paham, aku hanya berniat mengajak kamu main aja ke Bukit Cinta”

“Noval !, memang aku cewek yang masih ingusan. Tapi aku juga tahu, untuk apa kamu bawa cewek hingga puncak Bukit Cinta, kan untuk bermalam kan !. Nggak mungkin kalau enjoy seperti itu cuma untuk berteman, pasti lebih dari itu. Udahlah Noval, jangan berlagak bodoh. Aku sudah tahu,  banyak cowok yang sudah bermental laki laki buaya, dan aku nggak nyangka kalau kamu bermental seperti itu !” terdengar ketus ucapan Stephane. Sehingga Noval yang menjadi ciut hatinya menjadi tambah tak berkutik.

“Step, aku akui aku memang cowok busuk, tapi aku nggak bakal punya rencana yang norak sama kamu !” kali ini tatapan mata Noval begitu tulus. Meski Stephane masih sangsi dengan karakter cowok ganteng yang masih seperti anak ingusan ini, namun dia bisa melihat ada setitik noktah rasa penyesalan dalam benak Noval.

“OK !, Noval aku berusaha untuk percaya sama kamu. Tapi kamu jangan sakit hati bila aku menjauh dari kamu, terus terang saja, Noval !. Aku selalu merasa takut bila gaul dengan cowok cowok kaya kamu “

“Tapi never mind Step !, aku akan tetap engajak kamu gabung bareng kalau aku punya acara lainnya.
“Please, tapi aku minta lain kali kau lebih dewasa, OK ! “

“So pasti, friend “

Kedua remaja yang semula menjadi friend di FB dunia maya, kini gabung dalam dunia nyata, tanpa secuilpin kesan norak terhadap masing masing diri mereka. Keduanya terus ceria malam ini, hingga samapai pada rumah masing masing, dengan selaksa harapan untuk gabung di acara lain***

Senin, 28 Mei 2012

Menggapai Hari Esok


Dunia memang pengap, tak menentu dan menyimpan beribu misteri. Demikian artian hidup bagi insan yang tiap hari,  harus bermandi peluh untuk mendapatkan sebersit kehidupan. Ataukah memang, insan  itu senfiri  yang tidak tahu makna hidup yang sebenarnya. Seringkali yang namanya manusia selalu mengartikan hidup ini,  hanya dari sebelah kemewahan materi saja.  Namun demikian tidak bagi sebagian lainnya,  warna kehidupan ditorehkan melalui manfaat bagi manusia lainnya. Sehingga warna  kanvas kehidupan apapun tiada pernah mereka perdulikan.
Hamidun menapak kehidupanya langkah demi langkah, detik, menit, jam dan bergulir seterusnya,  dilalui dengan langkah gontai tak berpijak selembar keyakinan. Hanya kesulitan hidupnya sajalah yang mengokokohkan arti kehidupannya.Selain emak dan bapaknya  yang renta, miskin, diapun belum siap mematangkan diri di tengah masyarakat yang supermodern. Selembar ijazah aliyyah yang kumal dan kusut belum secuilpun ia manfaatkan. Sudah tiga tahun, hanya disimpan di lemari pribadinya.  Apakah tiada guna sama sekali ilmu yang digeluti selama 3 tahun ?,  pertanyaan demikian selalu saja hadir di dalam benaknya  yang paling dalam. Jangankan  masyarakat, dia sendiripun belum mampu menjawabnya..
Tapi berkat asuhan emak dan bapaknya, tentang tawakal dan  sabar,  Hamidun tiada  pernah sedikitpun memvonis kehidupan ini dari sisi keadilan . Yang ada hanya pembelajaran kehidupan yang tabah, karena Hamidun dibesarkan ditengah kemiskinan, ketabahan sekaligus ketangguhan menghadapi hidup ini.
Entah ada angin apa,  ditengah terik matahari yang menmbakar kulitnya yang legam. Dia tiba tiba saja, mencoba untuk menyongsong hidup ini dengan lebih percaya diri. Diambilnya tas gaul yang sudah kumuh, tas kesayangan sejak dia  masih di bangku aliyyah.  Kemudian dipasang  pada punggungnya, barangkali bisa menjadi saksi, niatan hatinya untuk bertualang mencari pekerjaan di Semarang yang gerah,
Sontak emak dan bapaknya menjadi terheran setengan senang, melihat anak lajangnya berniat mencari pekerjaan entah kemana letaknya keberuntungan anak yang diharapkan mereka. Kedua orang tuanya masih memandangi, walau jarak mereka sudah cukup jauh, setelah tadi putranya berpamitan
“Ya  Allah ……… semoga engkau berkenan membimbing anaku dan  selalu membesarkan hati anaku, Anaku maafkan emakmu yang tidak bias membantu apa-apa, hanya doa saja yang emak panjatkan “  demikain suara hati emaknya, setelah cukup lama berdiri di halaman mengawasi kepergian putranya, meski orang yang dicintai sudah tidak tampak lagi.
Matahari sudah mulai  menelan separo wajah bumi, pertanda sebentar lagi akan bersembunyi di balik malam. Bulanlah yang akan menggantikan tugas matahari. Namun harapan yang selalu hadir di kalbu Hamidun belum juga menjadi kenyataan.
Sudah sekian banyak pabrik,  bengkel,  toko hingga depo isi ulang air mineral ia datangi, untuk menawarkan jasa tenaganya. Namun semuanya  tidak memberikan jawaban yang ia harapkan.
“Ternyata  untuk mendapat secercah kehidupan, yang harus aku miliki tidak semudah yang kubayangkan,……entahlah aku tidak tahu, harus dengan cara bagaimana harus mendapatkan, biarlah penat sekujur tubuhku, namun yang mampui menolong diriku adalah hanya diriku sendiri “ guman Hamidun di tengah Kota Semarang, yang sudah mulai redup. Sementara lampu jalanan sudah mulai menyala, tatkala dia sudah mulai tiba di jalan kampong menuju rumahnya.
“ Cepatlah mandi dan sholat maghrib, anaku …! , emak sudah menyiapkan makanmu “ suara emak yang tulus  sempat ia dengarkan , ketika  ia mencium keriput tangan emaknya  yang sudah dari tadi menunungu kedatangannya di tengah regol pekarangan rumahnya. Kehangatan dan kasih sayang emaknya masih ia rasakan,  bukankah hal ini cukup bagi dia untuk terus tidak putus asa dalam mendapatkan Rammat dari Allah swt.
Maka Hamidunpun segera menunaikan Sholat Maghrib,  agar dirinya selalu mendapatkan kekuatan  di tengah keluarganya yang tidak memiliki pengharapan. Tapi apalah artinya modal duniawi, sesuatu yang ia yakini mampu ia dapatkan, dengan kedua bahunya sendiri. Waktu nantilah yang akan membuktikan. Semangat itu tiada hentinya menjadi lokomotif hidupnya.
Matahari masih setia menebarkan kehangatan di muka bumi ini, sehingga wajah bumi menjadi terang, pertanda Allah swt, masih berkenan menebarkan RahmatNYA kepada hambanya yang masih mwenyandarkan pengharapanya. Hamidun segera bergegas menyongsong hari-harintya dengan segenggam harapan.
Masih seperti hari-hari kemarin, tantangan dan kehidupan  yang tidak bersahabat masih saja menghadang Hamidun, anak lajang yang sedang belajar mengukir kehidupannya.   Terkadang terlintas di kalbunya, apakah masih ada hari indah yang dapat aku miliki, namun terkadang pula perasaan itu hilang,  berganti dengan ajaran para guru-guru yang dahuluIa dapatkan di bangku aliyyah,, bahwa manusia mesti akan mmendapatkan kemudahan dari Sang Pencipta, setelah manusia itu sendiri telah menyisakan kesabaran dan pasrah.
 “Sekarang, sampeyan mau ke mana, kang  ? “ seru Rosid teman melepas lelah Hamidun di tepi Jalan Pemuda Semarang, tempat biasa Hamidun dan teman-teman senasib mangkal melepas lelah, di siang udara panas kota Semarang.
“Entahlah, kang………….aku sendiri tidak tahu, biar kering dulu keringatku,  Wah belum lagi Sholat Duhur,  nanti saja setelah istirahat tak lanjutkan entah kemana aku akan berjalan mencari kerjaan “  jawab Hamidun dengan muka terbakar sinar matahari.
 “Baiklah kang, aku sendiri hari ini sedang kena sakit perut, setelah Sholat Duhur nanti aku mau pulang dulu, biar sampeyan yang lanjutin dagangan saya kang…! ”.
 “ Lho sampeyan piye to…kang, inikan hari baik, udara panas seperti ini kan baik untuk jualan es cendol to…?  Apa sampeyan nggak rugi…? “ sela Hamidun, setengah protes mendengar keluhan teman senasibnya.
  “Ah, kalaumasalah untung,  manusia ndak ada cukupnya, kang, entah tidak seperti biasanya hari ini aku merasa badan nggak enak, masalah rugi itu gampang, etung-etung  sampeyan bisa belajar mendapatkan uang halal, tapi ingat lho kang…hasilnya nggak seberapa “ jawab Rosyid dengan sorot mata meyakinkan, sehingga membuat sikap Hamidun menjadi tidak banyak protes lagi. Keduanya sejenak terdiam, karena Adzan Sholat Duhur memanggil mereka, untuk segera menunaikan kewajiban. 
“Kang ! , lantas bagaimana jadinya, dagangan sampeyan tak terusin, akau nggak mau kalau sampeyan rugi, kang !. “ kembali Hamidun menegaskan maksud baik temanya tadi.
“Sudahlah,..nggak usah kamu pikirkan, yang aku butuhkan hanya aku ingin istirahat dulu, nanti setelah dagangan ini habis, kembalikan gerobagku di pangkalan biasa.  Gitu saja Mid, aku tak pulang dulu. Assalamu΄alaikum “ . Rosid memberikan jawaban terakhir, seraya membalikan badannya, dan terus pulang.
Tinggalah Hamidun yang sedang menguatkan percaya dirinya, untuk mencoba menapak awal kehidupannya dengan berjualan es cendol. Toh untuk mendapatkan rejeki dari Sang Chalik  bisa didapatkan dengan beribu cara. Tinggal kita sendiri bagaimana menafsirkan makna hidup ini, demikian hati kecil Hamidun, yang selalu melekat kuat di hatinya.  Yang jelas bagi pemuda lajang ini, motivasi seperti ini telah terpatri jauh di hati yang paling dalam.
Masa lalu tinggalah masa lalu, kini secercah kehidupan mulai Hamidun miliki, apalagi ia baru saja mendapat kepercayaan dari juragannya Rosid,  untuk  bergabung bersama Rosid menjadi buruh penjaja jualan miliknya.  Hingga hari itu,  ia mampu pulang ke rumah bertemu emaknya dengan wajah berseri-seri,  sedikit ia memiliki pengharapan  untuk  mampu membantu emaknya dalam mencukupi kebutuhan hidupnya..
Meski hanya penjaja es cendol, namun tiada mengapa bila ini yang dapat Hamidun lakukan, daripa menjadi penjaja kemaksiatan, toh  penjaja es cendol jauh lebih bermanfaat. Sebuah potret sosial, yang dapat mengharu-birukan bagi yang tidak kuasa melakukan. Namun bagi Hamidup selangkah lebih maju dalam mengarungi kehidupan ini.
 “Ya Allah semoga engkau selalu berkenan mencurahkan RahmatMU, pada hambaumu ini, berilah kesehatan dan kebaran pada bapak dan emak yang telah banyak menyayangiku,  walau selama ini diriku belum mampu membalas budi baik mereka “  doa Hamidun selalu ia ucapkan setelah tiap habis sholat.  Bukankah ini sebagai pertanda bahwa Hamidun, tidak lain adalah anak sholeh yang sabar, tabah dan bertanggung jawab pada dirinya.

Sabtu, 21 April 2012

Pak Guru Andreas


Siapa bilang hanya para pahlawan bersimbah darah yang tersungkur tubuhnya di tanah tercinta ini, karena di terjang peluru anjing NICA adalah sosok  paling berjasa terhadap berdirinya negara dan  bangsa ini. Atau sang maestro perancang gedung pencangkar langit, berangka baja dan berlantai pualam yang mahal harganya disebut sebagai pahlawan negara. Bukankah pengendara sepeda motor yang melengkapi kendaraanya dan keselamatan dirinya, yang juga patuh pada rambu lalu lintas juga disebut sebagai pahlawan. Bahkan seorang figur yang tak pernah mengaku dirinya phlawan, padahal sekeping hidup yang dimiliki, berajut menit demi menit untuk mengasuh tunas tunas muda yang bukan anak kandungnya sendiri adalah sebenarnya seorang pahlawan.

Pagi ini dia berdandan Pakaian Dinas Harian, tanah liat yang menjadi  jalan desa yang dilalui masih basah dengan tetesan hujan semalam.  Terasa berat langkah kaki lelaki separoh baya itu berjalan di atas jalan yang belum kering benar. Sepatu hitam model perlente, terpaksa harus menjadi kusam warnanya karena dia harus menyibak genangan air di sepanjang  jalan itu. Namun keluh kesah yang kadang terlontar begitu saja dari mulutnya,  sama sekali tak dihiraukan tebing tebing berimbun ilalang dan pohon pinus di kanan kiri jalan itu.

Meski dia harus menyibak embun pagi yang masih terasa menggigit kulitnya, namun kedua kakinya terus saja diayunkan. Entah sampai kapan kaki ini masih setia menuruti kehendaknya, meski kadang kadang penyakit reumatik yang dideritanya usil menggelitik hatinya agar rebah saja di kamar tidurnya. Namun pagi yang datang menyapanya kali ini, adalah pagi yang masih bersahabat denganya. Meski setelah Sholat  Subuh dia harus menyisir jalan berkelok, naik turun dan memutari kaki Gunung  Ungaran untuk sampai ke sekolahanya.

Jalan yang dilalui sudah mulai agar terang, karena satu dua berkas sinar matahari mampu menyelinap di balik rerimbunan pohon pinus. Satu dua kali dia mulai bertemu dengan penduduk desa yang bergegas menyambung hidup dengan membawa keranjang sayur untuk dijual ke pasar.

“Istirahat dulu !, Pak Andreas !. Tidak usah terburu-buru, kan hari masih pagi !” sebuah permintaan dari Kartono ,  pedagang sayur yang hampir tiap hari berpapasan dengan dia di jalan desa tanah liat yang licin itu. Andreaspun menghentikan langkahnya sambil mengatur nafasnya kembali. Sementara Kartonopun merasa mendapatkan teman ngobrol di tengah hutan pinus itu, lantas dia menurunkan dua keranjangnya yang berisi sayuran.

2
“Sampai kapan kita harus begini, Pak Karto ?” seru guru yang sudah memucat wajahnya karena kecapaian. Perjalanan yang harus dilalui memang cukup berat, karena jalan setapak yang memutari bukit itu cukup jauh. Semenjak putusnya jembatan utama karena diterjang derasnya kali Sumowono, Januari silam.

“Iya Pak, gimana lagi !, kita tunggu pemerintah untuk menyambung jembatan itu lagi. Selama ini kami rugi besar P            ak !, karena tidak bisa menjual sayur ke Semarang”

“Aku juga kasihan pada anak anaku yang harus  berjalan menyisir jalan memutar ini. Mereka kini setiap hari kesiangan, kadang tidak ke sekolah. Meski pelajaran dimulai jam 8  pagi “. Kartono sudah mulai mampu mengatur nafasnya, maka diapun bergegas untuk melanjutkan menjemput matahari, menjemput pembelajaran anak anaknya yang lugu, jauh dari kehidupan seperti anak kota yang serba tercukupi. Namun keterbatasan segalanya, tidak mampu membungkam degup jantung Andreas  yang bergurat kemanusiaan. Mereka adalah anak anak manusia, yang harus mendapatkan kasih sayang.

***

Jarum kecil jam dinding sekolah yang lusuh menunjukan angka 7 lewat sedikit, namun dinding sekolah dasar itu masih kelihatan samar tertutup kabut pagi. Beberapa anak desa berpakaian putih kumal sudah mulai datang di sekolah, mereka menyeringai senyuman sambil mengucapkan salam kepada guru separo baya itu.

“Lho, yang lain mana ?, yang datang cuma ini ?” sapa Pak Andreas.

“Kami tidak tahu pak !, hanya tadi teman teman banyak yang pergi bersama ibunya ke puskesmas ?”

“Sakit apa mereka ?”

“Kata ibuku, semalam banyak anak tetangga yang batuk pilek dan badanya panas”

Meski dengan getir, Andreas mencoba tetap mengusung senyum pada mereka. Meski tembok tembok kusam dan banyak yang retak, kaca kaca jendela yang berdebu tebal telah mencibirkan senyumanya itu. Apalagi ternit atap kelas yang sudah mulai banyak yang retak bahkan koyak di sana sini, seakan mengusir Andreas agar meninggalkan sekolahan ini. Tapi semua hipnotis yang menyelinap di sisi lain jantungnya dia tepiskan kuat-kuat. Andreaspun segera mengambil tongkat besi dan dipukulkan pada potongan rel baja kereta

3
api yang menggelantung di depan kantornya, sebagai pertanda waktunya bagi anak anak untuk mulai belajar. Meski pandangan mata kosongnya dia arahkan pada sederetan ruang kelas yang hanya berisi tidak lebih dari sepuluh. Sementara sejak Bulan Januari silam, sebagian guru lainnya sering datang terlambat dan kadang pula tidak hadir, lantaran halangan alam yang demekian  kencangnya merenggut mereka dan anak anaknya. Terbesit dalam hatinya, terkadang diapun berniat ingin sama seperti mereka. Namun sebuah pembelajaran yang pernah dia sodorkan suatu hari kepada anak anaknya mampu demikian kuatnya terpatri dalam lubuk hatinya.

“Inilah badai matahari yang menerjang bumi kita !” Andreas memegang peraga bumi di tangan kananya, yang didekatkan pada peraga matahari pada tangan kirinya, untuk member pelajaran IPA pada mereka.

“Mengapa bumi tidak terbang melayang, pak guru ?, padahal terkena badai. Apa kalau bumi terkena badai matahari kita semua akan mati, pak guru ?” tanya Susianti dengan polosnya.

“Itulah hebatnya bumi, Susi !, Bumi tidak pernah berhenti berputar, apalagi kabur karena badai matahari. Sebab kalau bumi berhenti atau terbang melayang, kita semua akan mati !” jawab Andreas dengan derai tawa menghiasi wajahnya.

“Beruntung sekali, kita hidup di atas bumi  yang berhati baik. Aku ingin seperti bumi, pak guru !”. Tanya Hendrawan.

“Oh bagus sekali cita citamu Hendrawan !, sifat bumi  itu bisa kita tiru. Kita sebaiknya tetap berbuat baik kepada orang lain, meskipun kita sedang berhadapan dengan penderitaan, sama seperti bumi. Bumi tetap berputar, memberikan kita siang dan malam, menumbuhkan padi dan sayuran meskipun dia diserang badai matahari. Nah kalau kita bisa meniru bumi, maka kamu nantinya bisa menjadi manusia yang baik “.

Solar Fire tidak hanya menyerang bumi saja tapi kini menyerang sekolahnya, dengan banyaknya tebing di seputar wilayah Sumowono yang longsor, apalagi dengan putusnya jembatan utama. Namun bukan berarti pembelajaran pada anak anak desa yang lugu dan kebanyakan putra petani miskin itu, menjadi terhenti menerima pembelajaran. Bumilah yang mengilhami Andreas agar dia mampu bersifat seperti itu. Mengapa dia harus kalah dengan cita cita murni Hendrawan anaknya.

***
4
Sayup terdengar suara beberapa orang mendekati ruang kelas VI, Andreaspun bergegas menyambut mereka yang datang bertiga dengan setelan kemeja PSH. Peluh membasahi wajah dan tangan ke tiga tamu itu yang kelelahan.

“Bapak dari mana ?”

“Oh ya !, Bapak yang bernama Pak Andreas ?” jawab salah seorang dari mereka.

“Betul, pak !, ada yang bisa saya bantu ?”

“Kami tim survey dari pemkot, kami hanya berniat survey di wilayah ini. Terutama laporan beberapa media tentang lumpuhnya pendidikan di sini karena hujan deras kemarin. Setelah selesai kami survey, secepatnya kami akan membantu mengatasi lumpuhnya wilayah Sumowono”

Andreas saat ini mampu berperan sebagai nara sumber dari masalah kemanusian. Bukan hanya nasib sekolah anak-anaknya, tapi juga kebutuhan kelancaran transportasi bagi petani sayur di wilayah itu.

“Lantas apa ide bapak ?” pinta ketua tim survey, setelah mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri tentang penderitaan hidup warga Sumowono.

“Saran kami, dahulukan tersambungnya Jembatan Sumowono, lantas bersihkan longsoran tebing yang banyak menutupi jalan itu. Misalkan pemerintah daerah belum mampu menyambung Jembatan Sumowono, gunakan dahulu jembatan darurat militer !”

Wajah wajah optimis kini menghiasi meeka semua. Andreas melepas kepergian mereka semua dengan harapan yang bulat, agar pembelajaran kepada anak anaknya tidak pernah retak apalagi patah***